Home > Artikel
 
 
 
 
 
 
 

Artikel

 

MAU F.C.R RENDAH ?

(oleh Winarno)

 
Ingat, jangan sekali-kali mengurangi jatah pakan ayam hanya karena mau irit pakan. Yang berhak menentukan jatah pakan berapa gram/ekor/hari adalah ayamnya sendiri (ad libitum). Bila jatah pakan dikurangi atau dibatasi, maka itu akan menjadi bumerang. Karena NET ENERGY dari pakan, yang utama adalah untuk kebutuhan hidup. Selebihnya baru untuk produksi. Kalau jatah pakan dibatasi, maka net energy-nya pun menjadi terbatas, maka akibatnya energi untuk produksi menjadi terbatas.
Hal ini saya ingatkan berkali, berkali, berkali, berkali, berkali, jangan membatasi feed intake atas dasar kemauan sendiri. Katakan ayam mampu makan sampai 130 g/ekor/hari walau pun di daerah panas, tetap harus dikasih. Tetapi, kita harus melakukan evaluasi di mana letak masalahnya, sampai ayam perlu dan mau makan banyak, lebih dari 120 gram/ekor/hari.
Feed intake (F.I) tidak berdiri sendiri, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi, yaitu :
1. temperature dan kelembaban relatif lingkungan;

2. kadar gizi dalam pakan;
3. pola manajemen pemeliharaan;
4. sistem perkandangannya (opened house, closed house, kndang terbuka tipe F.A.E = Futuristik, Aerodinamis, Ekonomis);
5. strain ayam;
6. alat pembagi pakan;
7. umur ayam.
Saya pun padabulan Januari 2014 kemarin, di Ciamis, Jawa Barat, juga mengalami, ada flock tertentu yangF.I-nya sampai 128 g/ekor/hari. Produksinya memang bagus, tapi FCR kurang bagus. Setelah dilakukan pembenahan, flock tsb feed intake-nya menjadi 118 g/ekor/hari dan pada bulan April 2014, F.I di flock tsb saat ini, Mei 2014, feed intake-nya tinggal 114 gram/ekor/hari.
Secara umum, feed intake layer modern yang beredar di Indonesia, standar-nya 111 - 113 g/ekor/hari dengan FCR rata-rata 2,10 - 2,20.
Bila feed intake layer di daerah tropis lebih dari 115 gram/ekor/hari, misal 118 – 120 gram/ekor/hari, maka akan sulit untuk bisa mencapai FCR rata-rata sesuai standar, yaitu 2,10 – 2,20.
FCR dibentuk dari feed intake (kg) dibagi produksi telur (kg).Sedangkan produksi telur, dibentuk oleh HD% dikalikan bobot telur per butir.
HD% dan atau HH butir dan kg) dan bobot telur per butir dihasilkan oleh ayam yang :
1. Sehat, produksi tinggi dan deplesi rendah;
2. Bobot badan mencapai standar dari sejak awal pemeliharaan dan seragam;
3. Asupan nutrisi (air minum, pakan, oksigen) dalam jumlah cukup dan seimbang.
Kesimpulannya, peternak layer harus mempelajari dan berusaha terus menerus untuk melakukan penyesuaian antara pola manajemen pemeliharaan, temperature dan kelembaban relatif lingkungan, sistem perkandangannya, program penyinaran tambahan dan formula pakan yang dibuat supaya bisa mencapai performance yang optimal dengan FCR rata-rata 2,10 – 2,20 (nilai 8). Kalau bisa mencapai FCR rata-rata 2,05 – 2,09 (nilai 9). Tujuannya jelas, untuk menekan biaya pakan. Dengan standar harga pakan layer komplit saat ini Rp 5.000, supaya biaya pakan kurang dari Rp 11.000,-/kg telur.
 
CARA-CARA SUPAYA FEED INTAKE SEDIKIT TAPI CUKUP BAGI AYAM
1. Alat Pembagi Pakan Yang Anti Tercecer
1.1. Pakai lah alat pembagi pakan yang tidak menyebabkan pakan tercecer. Bisa pakai automatic feeder seperti foto di bawah ini.

1.2. Bila masih manual, pakai lah alat pembagi pakan seperti foto di bawah ini :
 

2. Gunakan Talang Pakan Yang Baik Dan Benar.
2.1. Model dan ukuran talang pakan yang ideal untuk layer;

2.2. Bila masih menggunakan talang pakan dari pipa pvc, gunakan yang ukuran 5 inchi dibelah menjadi 2 dan pasang penghalang di sisi ayam supaya pakan tidak tercecer akibat ayam mengais-ngais pakai paruhnya, seperti contoh foto di atas.
3. Teknik Pemberian Pakan Layer Di Daerah Tropis :
3.1. Berikan jatah pakan ayam cukup 1 (satu) kali tiap hari pada pukul 15:00 waktu setempat;
3.2. Puasakan selama 3 (tiga) jam siang hari pada pukul 12:00 – 15:00 waktu setempat setiap hari supaya ayam memakan semua pakan yang diberikan baik yang butiran mau pun yang berbentuk tepung dan untuk mengurangi resiko heat stress;
3.3. Jatah pakan ayam harus habis pada pukul 12:00 waktu setempat;
3.4. Bila pada pukul 12:00 waktu setempat jatah pakan tidak habis, harus dikuras dan ditimbang dimana nantinya jatah pakan yang akan diberikan nanti sore pada pukul 15:00 waktu setempat harus dikurangi 2 (dua) kali jumlah pakan hasil kurasan;
3.5. Sebaliknya, bila pada pukul 09:00 waktu setempat sisa pakan di talang ketipisan, harus ditambah 2 – 3 gram per ekor. Dan, jatah pakan yang akan diberikan nanti sore pukul 15:00 waktu setempat, harus ditambah 2 – 3 gram per ekor.
4. Program Penyinaran Tambahan :
4.1. Berikan sinar tambahan pada dini hari, yaitu pada pukul 01:00 – 06:00 waktu setempat;
4.2. Tujuannya, supaya ayam makan pada saat temperatur lingkungan dingin dan resiko heat stress berkurang atau tidak ada;
4.3. Merubah bio-ritme ayam khususnya siklus reproduksinya dimana ayam akan bertelur dengan jadwal lebih maju. Pada pukul 12:00 siang waktu setempat, ayam sudah bertelur 80 – 85%.
5. Berikan Pakan Dengan Kualitas “PERTAMAX PLUS”, Bukan “PREMIUM” :
5.1. Mirip dengan mobil modern yang pakai injeksi (bukan karburator), bila pakai bahan bakar dengan angka oktan tinggi (Pertamax Plus) akan lebih hemat pemakaian bahan bakar, tidak menyebabkan torsi (“nglithik”) dan sedikit perawatan karena pembakarannya lebih sempurna. Maka, pakan ayam pun harus dibuatkan dengan kualitas setara dengan “Pertamax Plus”;
5.2. Buat lah pakan dengan prinsip seimbang :

5.3. Cenderung gunakan pakan dengan konsentrasi yang lebih tinggi supaya feed intake relatif sedikit tetapi kebutuhan gizi tercukupi. Tanda-tanda gizi tercukupi : bobot badan bisa sesuai standar, keseragaman minimum 80% dan ayam sehat :
Ø CP 19,11%;
Ø ME 2.828 Kcal/kg;
Ø ratio ME : CP = 148;
Ø kadar kalsium 4,2%;
Ø kadar fosfor 1,05%;
Ø asam amino : Lysine 1,24%, Methionine 0,62%, Tryptophan 0,22%, M + C 0,96%, Threonine 0,76%;
Ø asam lemak Linoleat 0,25%.
5.4. Gunakan bahan baku pakan yang berkualitas yang daya cerna dan palatabilitasnya tinggi. Hindari penggunaan bahan baku yang masuk daftar negatif bagi unggas : rapeseed, tepung bulu, bungkil sawit, tepung ikan yang prosesnya tidak baik (digarami dan dijemur).
6. Gunakan probiotika yang bisa membantu meningkatkan kemampuan mencerna makanan dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam, probiotika yang khusus untuk unggas. Probiotika yang menghasilkan enzim yang kerjanya : amilolitik, lipolitik, proteolitik, selulolitik, lignolitik dan asidofilus :

 

________________________________________________________________________

HEAT STRESS (STRES PANAS)

(oleh Winarno)
Ayam tidak memiliki kelenjar keringat untuk membantu melepaskan panas tubuh, sehingga ada 5 (lima) cara ayam melepaskan panas tubuhnya :
 
 
1. Radiasi (merambat tanpa medium)
Perpindahan panas tubuh ke material yang lebih dingin tanpa medium perantara.
2. Konduksi (merambat dengan medium)
Perpindahan panas tubuh melalui medium perantara dengan kontak fisik.
3. Konveksi (memancar dengan medium udara)
Perpindahan panas terjadi karena udara mengalir di permukaan kulit, dimana udara tersebut lebih dingin, maka panas tubuh ikut memancar.
4. Evaporasi (penguapan)

  Perpindahan panas karena adanya penguapan dari bagian tubuh ayam;
5. Faecal Excreta (buang panas melalui kotoran)
Perpindahan panas melalui kotoran, akibatnya kotoran lebih basah karena banyak minum.
 

 
Efektifitas pelepasan panas dari tubuh ayam dipengaruhi oleh kelembaban, suhu lingkungan dan gerakan udara.
Secara fisik, usaha ayam untuk melepaskan panas tubuhnya dapat dilihat pada :
Ø terjadi dilatasi/melebarnya pembuluh pembuluh darah pada permukaan kulit, jengger dan pial;
Ø ayam menggali litter dan mandi tanah;
Ø ayam di kandang battere lebih mudah terserang heat stroke karena tidak bisa mencari tempat yang lebih dingin;
Ø ayam membuka/menjatuhkan sayapnya untuk memperluas permukaan kulit yang bersentuhan dengan udara;
Ø Jika suhu lingkungan mendekati suhu tubuh ayam, 40 °C, effesiensi  mekanisme pelepasan panas menjadi terbatas.
 
Pada kondisi seperti ini, ayam malakukan panting (megap-megap) untuk mekanisme evaporasi dengan membuka mulut, ayam menguapkan air.
Jika dengan panting ayam gagal mencegah naiknya suhu tubuh, ayam akan jadi lemas, koma kemudian mati.
 
Akibat Heat Stress
Turunnya konsumsi pakan, naiknya konsumsi air minum. Berkurangnya nafsu makan ayam adalah reaksi dari naiknya suhu lingkungan, sehingga energi yang didapat dari pakan turun. Ayam akan menggunakan energi dari lemak tubuh sebagai sumber energi hidupnya, dimana lemak tubuh menghasilkan panas yang lebih rendah dibanding metabolisma dari protein atau karbohidrat pada pakan. Berkurangnya intake (asupan) gizi akan secara cepat berakibat pada menurunnya produksi. Pada ayam muda akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan, sedangkan gejala yang tampak pada ayam produksi adalah, berat telur turun, diikuti menurunnya HD% dan selanjutnya kulitas kerabang pun menurun. Kotorannya menjadi lebih basah.
 

Sejauh Mana Kerugian Yang Diakibatkan Oleh Heat Stress Tergantung Pada :

1. Temperatur maksimum yang mengenai kelompok ayam;

2. Lamanya temperatur tinggi mengenai ayam;
3. Tingkat perbedaan dari perubahan suhu;
4. Kelembaban relatif udara.
 
Kelenjar di saluran pernafasan berfungsi sebagai penyaring debu dan bakteri dari udara yang masuk kedalam saluran pernafasan, dan sistem ini di-by pass jika ayam membuka mulutnya untuk bernafas. Tentu saja hal ini akan mengakibatkan infeksi bakteri sekunder pada ayam yang heat stress.
 
Pengaruh Heat Stress Pada Kualitas Kerabang Telur
Heat Stress pada ayam masa produksi sering mengakibatkan adanya telur dengan kerabang lunak, sebab terjadi kekacauan  asam/basa di dalam darahnya akibat dari panting ( hiperventilasi).
Akibat panting,  ayam banyak kehilangan gas CO2 dari paru parunya. Rendahnya kadar CO2 dalam darah menyebabkan pH darah naik menjadi basa (alkalis). Tingginya pH darah mengakibatkan  menurunnya jumlah ionisasi Kalsium pada darah. Ion Kalsium berguna untuk pembentukan kerabang telur.
Menambahkan Kalsium pada campuran pakan tidak memecahkan masalah ini, karena konsumsi pakan turun drastis dan meningkatnya kehilangan Phosphor akibat dari ketidak seimbangan asam/basa.
 
Management Heat Stress
1. Selama suhu masih tinggi, kebutuhan air minum meningkat tajam;
2. Alirkan air segar dan dingin ke tempat minum talang atau nipple, karena pipa dari plastik/paralon cepat sekali menyeimbangkan panas lingkungan dengan air di dalamnya;
3. Jangan membuat ayam gaduh selama cuaca panas;
4. Tunda pekerjaan yang membuat ayam stress, atau lakukan pada saat dingin, malam atau dini hari;
5. Jangan lakukan vaksinasi spray karena akan menambah kelembaban udara;

6. Sesuaikan pemberian obat atau vaksin dengan kebutuhan minumnya;

7. Jangan puasakan ayam saat akan divaksinasi, bahkan bila memungkinkan, tunda vaksinasi. Heat stress menyebabkan turunnya fungsi kekebalan dan mungkin responnya tidak baik terhadap vaksinasi;
8. Gunakan multi vitamin, terutama vitamin C dosis ditinggikan dan elektrolit dalam air minumnya, untuk membantu menormalkan asam/basa;

9. Gunakan kipas (blower) dengan dosis cukup untuk menurunkan suhu lingkungan di dalam kandang menjadi maksimum 30˚C.

_______________________________________________________________________

 

________________________________________________________________________

POTONG PARUH

(BEAK TRIMMING)
PENGERTIAN
“Memotong paruh ayam bagian depan menjadi lebih pendek, tumpul dan rata atas-bawah, dan wajib hukumnya walau pun sangkar ayam diisi 1 (satu) ekor tiap petak”.
 
TUJUAN
1. Mengurangi resiko kejadian kanibal;
2. Diharapkan susut jumlah ayam saat periode produksi berkurang, terutama mengurangi resiko dobol (prolapsus). Standar susut jumlah ayam dari umur 20 – 80 minggu, maksimum 10%. Bila susut jumlah ayam >15%, sulit untuk mencapai produksi telur hen house (H.H) >325 butir atau 21 kg telur per ekor;
3. Agar ayam makannya menjadi lebih efisien, mengurangi resiko pakan tercecer akibat pilih-pilih makanan. Jadi bukan hanya memakan makanan yang berbentuk butiran (pellet, crumble) tapi juga ikut termakan makanan yang berbentuk tepung (mash). Ingat, semua strain ayam petelur meng-klaim F.C.R-nya bisa 2,10 – 2,20;
 
WAKTU
1. Pertama, saat anak ayam (D.O.C) baru menetas, pada hari ke-1, bisa dipotong paruhnya dengan cara membakar bagian ujungnya sebanyak -/+ 1 mm dengan pisau potong paruh yang menyala dimana suhunya -/+ 500˚ Celcius supaya titik tumbuhnya paruh mati;
2. Kedua, yang tepat adalah pada masa perkembangan (grower), yaitu pada umur 9 - 10 minggu, dengan pertimbangan :
Ø Sudah melewati masa pertumbuhan, yaitu pre-starter (umur 1 – 4 minggu) dan starter (umur 5 – 8 minggu);
Ø Potong paruh menyebabkan stress berat. Kalau dilaksanakan pada masa pre-starter dan starter, bisa menghambat laju pertumbuhan;
Ø Pada umur 9 minggu, paruh ayam belum terlalu keras, masih mudah dipotong walau pun dipotong sebanyak -/+ 50% atau disisakan 2-3 mm di depan lubang hidung;
Ø Bila memotongnya dengan teknik yang baik dan benar, titik tumbuhnya mati akibat dipotong dan dibakar, paruh ayam benar-benar tumpul dan rata atas – bawah selamanya;
Ø Bila memotongnya pada masa perkembangan (developer), umur 13 – 16 minggu, terlambat. Paruhnya sudah semakin keras dan beresiko mengganggu perkembangan organ reproduksi akibat stress dan awal berproduksinya bisa mundur.
 
SYARAT
1. Sebelum memotong paruh, pastikan ayam dalam kondisi sehat;
2. Program vaksinasi untuk masa pertumbuhan (pre-starter dan starter) sudah dilaksanakan, terutama vaksinasi terhadap ND;
3. Berikan antibiotika yang bisa menembus paruh dan atau sinus, yaitu antibiotika golongan makrolida (Eritromisin, Tilosin, Spiramisin dll) pada ayam yang sedang dipotong paruhnya, selama 4 – 5 hari, bisa via air minum atau via pakan, untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi sekunder;
4. Paruh ayam yang baru dipotong tidak boleh menyentuh dasar wadah pakan. Resikonya bisa terjadi tumor (granulasi). Bila terjadi granulasi di paruh bawah, bisa menyulitkan ayam saat mau makan. Maka piring wadah pakan pastikan terisi makanan cukup tebal, selalu terisi minimum 2-3 cm, dan tidak boleh sampai kehabisan selama minimum 5 hari atau sampai benar-benar kering.
ALAT POTONG PARUH

 
PEMOTONG POSISINYA DUDUK
 
 
PEMOTONG POSISINYA BERDIRI
 
SAAT DIPOTONG, POSISI KEPALA AYAM MENDONGAK 45 DERAJAT
 
 
SAAT DIPOTONG, PARUH AYAM DALAM KONDISI TERTUTUP DAN TEGAK LURUS DENGAN PISAU
 
PARUH AYAM SETELAH DIPOTONG, SISI KIRI
 
PARUH AYAM SETELAH DIPOTONG, SISI KANAN
 
POTONGAN PARUH

 

________________________________________________________________________

PERIODE PRE-LAYER (PRE-LAYING PERIOD)

Kita berandai-andai dulu. Seandainya pemeliharaan layer sejak awal, periode pre-starter (umur 1 – 4 minggu) sampai dengan periode developer (umur 13 – 16 minggu), semua sudah berjalan baik. Dalam arti bobot badan, keseragaman, kesehatan dan potong paruh sudah sesuai standar. Sudah bagus lah. Jadi, ceritanya jangan mundur lagi ke periode awal.
Maka, periode pre-layer adalah sangat krusial untuk menuju periode produksi (laying period). Semua peternak layer tentu saja mengharapkan dan berusaha untuk bisa mencapai puncak produksi, HD >90% dalam tempo lebih dari 20 minggu. Kenyataan yang sering terjadi adalah saat pre-layer dan saat menuju puncak produksi “feed intake”-nya sulit atau tidak mencapai standar sehingga bobot badannya juga tidak mencapai standar. Kalau toh nanti produksinya bisa mencapai HD>90%, sering terjadi drop (turun 5 – 15%) atau bahkan outbreak (turun 30 – 50%). Mengapa? Dan, bagaimana melewatinya supaya puncak produksinya persisten?
Pada periode pre-layer, ayam layer mengalami pancaroba fungsi fisiologis tubuhnya, termasuk hormonalnya. Di satu sisi dewasa tubuhnya masih berlangsung, di sisi lain dewasa kelaminnya sudah mulai matang, yaitu sudah mulai bertelur. Ayam jadi bingung membagi asupan gizinya, untuk tubuh atau untuk produksi. Maka, ayam layer pada masa ini, sangat sensitive terhadap gangguan stress.
Beberapa hal yang perlu dikelola dengan baik dan benar pada periode pre-layer :
1.Pakan
1.1. JANGAN diberi pakan standar layer untuk ayam periode pre-layer. Karena kadar kalsium pakan layer 3,6 – 4%, ketinggian untuk ukuran ayam pre-layer. Kalau dipaksakan, ya tetap dimakan oleh ayam tetapi “feed intake” tidak bisa banyak atau tidak bisa mencapai standar karena terasa kenyang. Kelebihan kadar kalsium memang dibuang oleh ayam via kotoran sehingga kotoran ayam banyak berwarna putih. Hal ini banyak terjadi di lapangan;
1.2. JANGAN diberikan pakan standar grower atau developer saat masuk periode pre-layer karena kadar kalsiumnya terlalu rendah, hanya 1%. Pada hal, saat periode pre-layer, ayam perlu kalsium sedikit lebih banyak untuk deposit kalsium di tulang-tulangnya dimana deposit kalsium ini akan dipakai saat puncak produksi. Bila kurang deposit kalsium, maka saat puncak produksi bisa terjadi gejala patah produksi sedikit, HD turun 3 - 5%. Bisa pulih, bisa tidak pulih bila ada gangguan lain, misalnya stress dan sakit;
1.3. Pakan pre-layer, kadar kalsiumnya cukup 2%, protein 17 – 17,5% dan energinya 2.675 - 2.700 Kcal/kg. Bisa diperoleh dengan cara mencampur pakan grower atau developer 65% dengan pakan layer 35% sampai dengan produksi rata-rata mingguan HW (hen week) 5%, baru diganti pakan standar layer, protein 19% dan energy 2.800 Kcal/kg.
 
2.Lakukan kontrol bobot badan setiap minggu setelah ayam ditransfer dari kandang peremajaan ke kandang produksi :
2.1. Biasanya perlu waktu setidaknya 3 minggu atau 3 kali penimbangan untuk mencapai kestabilan kondisi ayam dimana bobot badan bisa mencapai standar, keseragaman bisa mencapai minimum 80% dan Co-effisient of Variation (C.V) maksimum 8%;
2.2. Bila terjadi bias, bobot badan tidak mencapai standar, lakukan tindakan tepat dan terukur;
2.3. Setelah kondisi ayam sudah stabil, penimbangan dilakukan cukup 2 minggu sekali sampai produksi HW 50%;
2.4. Bila kondisi ayam tetap stabil, maka penimbangan ayam cukup dilakukan 1 kali per bulan dan seterusnya sampai afkir.
 
3.Pencahayaan
3.1. Selama masa pre-layer, masih belum perlu pencahayaan tambahan untuk memperlambat dewasa kelamin sambil menunggu dewasa tubuhnya tercapai dulu. Bila pada manusia, jangan dipaksa anak gadis melahirkan pada umur di bawah 20 tahun. Malam hari biarkan dalam kondisi gelap walau pun ada problem “feed intake” atau pun bobot badan masih di bawah standar. Cari sebabnya atau diagnosanya yang pasti, baru ambil tindakan yang tepat;
3.2. Pencahayaan tambahan mulai diberikan bila rata-rata produksi minggu, HW sudah mencapai 5%. Beri pencahayaan tambahan 1 jam pada pagi hari pukul 05:00 06:00 waktu setempat. Seiring tambah umur 1 minggu, pencahayaan ditambah 1 jam menjadi 2 jam (04:00 – 06:00 waktu setempat) dan seterusnya sampai pencahayaan tambahan maksimum 5 jam, yaitu pada pukul 01:00 – 06:00 waktu setempat. Biarkan malam hari tanpa lampu. Ayam juga perlu istirahat 7-8 jam. Bila pencahayaan ditambah lagi, tidak ada perbedaan yang nyata (signifikan) dengan produktifitas, yang terjadi pemborosan biaya listrik.
 
4.Stres
4.1. Pindah atau transfer dari kandang peremajaan ke kandang layer selambat-lambatnya 15 minggu dimana program vaksinasinya sudah komplit sampai vaksin ND, IB, EDS killed. Tujuannya untuk memberi waktu adaptasi yang cukup bagi ayam sebelum masa produksi. Sebab, layer modern saat ini cenderung maju awal produksinya, yaitu HW 5% pada umur 18 - 19 minggu. Bila masuk ke kandang produksinya lambat, umur 16 minggu atau lebih, maka waktu adaptasinya kurang sementara ayam masih belum bebas stress akibat masih adanya perlakuan vaksinasi lanjutan;
4.2. Layer pada periode pre-layer sangat sensitive akibat terjadinya pancaroba fungsi fisiologis tubuhnya. Maka, sedapat mungkin hindari tindakan atau perlakuan yang menyebabkan ayam stress. Misalnya, program vaksinansi lanjutan atau vaksinasi ulang. Sedapat mungkin jangan melakukan vaksinasi terlalu sering (seminggu 1 kali atau seminggu 2 kali). Vaksin lanjutan dari pullet, maksimum dilakukan 2 minggu sekali untuk persiapan pencegahan saat puncak produksi.
Misal, transfer pullet pada umur 15 minggu akhir atau awal 16 minggu :
Ø vaksin ulang AI pada umur 17 minggu akhir (2 minggu);
Ø vaksin ulang ND + IB aktif (live) pada umur 19 minggu (2 minggu);
Ø obat anti ekto-endo parasit pada umur 20 minggu; dan
Ø vaksin ulang Coryza Tryvalent suspension ke-3 pada umur 21 minggu (2 minggu).
4.3. Ada baiknya pada periode pre-layer diberi multi vitamin dan anti stress, bisa via air minum dan atau via pakan secara berkala, 3 hari dalam seminggu.

Ini cerita ku tentang ayam pada periode pre-layer. Mana cerita mu?

 ________________________________________________________________________

CACINGAN :

PENGENDALIAN DAN PENGOBATANNYA
Penyakit cacing atau helminthiasis terkadang masih kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND atau Al). Padahal penyakit ini mampu menimbulkan kerugian cukup besar. Waktu serangannya sulit diketahui, tiba-tiba saja produktifitas ayam menurun.

Cacing yang sering menyerang ayam secara umum ada dua, yaitu cacing gilik (Ascaridia sp., Heterakis sallinae, Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) dan cacing pita (Raillietinasp., Davainea sp.).
 
Cacing biasanya meng-infestasi ke dalam tubuh ayam melalui beberapa cara, diantaranya melalui telur cacing atau larva cacing yang termakan oleh ayam, memakan induk semang antara (siput, kumbang, semut dll.) yang mengandung telur atau larva cacing, telur atau larva cacing yang terbawa oleh petugas kandang melalui sepatu, pakaian kandangnya atau terbawa terbang oleh induk semang antara. Selain itu juga bisa karena ransum atau air minum yang tercemar telur cacing.

Telur cacing yang keluar bersama feses berkembang menjadi stadium infektif kemudian termakan induk semang antara atau langsung masuk tubuh ayam yang kemudian akan menuju ke tempat yang disukainya (tembolok, usus, sekum atau organ lain) untuk berkembang sampai dewasa.

Pengendalian Cacingan

Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan hasil peternakan yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan yaitu:
1.   Pemberian obat cacing.
Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing. Seperti cacing nematoda dengan siklus hidup kurang lebih satu setengah bulan, maka diberikan pengobatan dua bulan sekali, begitu juga dengan cestoda. Pemberian obat cacing pada ayam layer sebaiknya diberikan pada umur 8 minggu dan diulang sebelum ayam naik ke kandang baterai. Sedangkan pada ayam broiler jarang diberikan anthelmintika karena masa hidupnya pendek.
2.   Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput di sekitar area peternakan
3. Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi infestasi cacing.
4.   Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
5. Mencegah kandang becek, seperti menjaga “litter” tetap kering, tidak menggumpal dan tidak lembab.
6. Peternakan dikelola dengan baik seperti mengatur jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan dilakukan sistem “all in all out”.

Obat Anti Cacing (Anthelmintik)

Selain pencegahan juga harus dilakukan pengobatan pada peternakan ayam yang telah terserang cacingan. Pengobatan sebaiknya dilakukan secara serempak dalam satu kandang atau flok yang terserang cacingan dengan anthelmintika yang sesuai. Anthelmintika merupakan obat untuk menghilangkan atau mengeliminasi parasit cacing dari tubuh ayam.
Obat cacing (anthelmintika) merupakan senyawa yang berfungsi membasmi cacing sehingga dikeluarkan dari saluran pencernaan, jaringan atau organ tempat cacing berada dalam tubuh hewan.
 
Secara garis besar, cara kerja obat cacing ada 2, yaitu 1) mempengaruhi syaraf otot cacing, dan 2) mengganggu proses pembentukan energi.
 
Cara kerja yang pertama akan mengakibatkan cacing lumpuh sehingga dengan mudah dikeluarkan dari tubuh ternak bersama dengan feses. Sedangkan cara kerja kedua menyebabkan cacing kehilangan energi dan akhirnya mati.

Jenis Obat Cacing

Berdasarkan cara kerjanya, obat cacing dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu 1) Benzimidazol (albendazol, fenbendazol, flubendazol, thiabendazol);
2) Imidathiazol (levamisol) dan tetrahydropyrimidine (pyrantel);
3) Avermectin (ivermectin) dan milbemycin (moxidectin);
4) Salicylanilide (niclosamid) dan nitrophenol;
5) Diclorvos dan trichlorphon.
* Piperazin dikelompokkan tersendiri karena cara kerjanya berbeda.

Kriteria obat cacing ideal antara lain :

1) Efektif, yaitu berspektrum luas dan aktif untuk semua fase hidup cacing, termasuk cacing dalam jaringan maupun saluran cerna;
2) Aman, yaitu mempunyai indeks terapi yang lebar;
3) Tidak menimbulkan residu di jaringan dan atau withdrawal time (waktu henti obat agar unggas/ternak aman untuk dikonsumsi) yang pendek;
4) Tidak berinteraksi dengan obat atau racun lain di lingkungan;
5) Tidak toksik terhadap ternak yang masih muda;
6) Efisien, yaitu cukup satu kali pemberian untuk meminimalkan biaya dan stres penanganan ternak;
7) Murah.

Obat cacing yang benar-benar ideal mungkin sulit ditemukan. Keunggulan dan keterbatasan obat cacing yang banyak beredar di lapangan antara lain :

1.   Piperazin
Piperazin merupakan obat cacing yang paling sering digunakan oleh peternak. Piperazin sangat efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik yang ada di saluran cerna seperti Ascaridia pada ayam, ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing), babi maupun kuda. Piperazin biasanya dikombinasikan dengan phenotiazine agar efektifitas-nya terhadap cacing sekum meningkat.
Kelarutan piperazin sangat baik dalam air sehingga dapat diberikan melalui air minum maupun dicampur dengan ransum. Keunggulan piperazin yaitu memiliki rentang keamanan yang luas. Namun, piperazin kurang efektif untuk membasmi Heterakis gallinae (cacing sekum), cacing cambuk dan cacing pita.
 
2.   Phenotiazin
Phenotiazin sangat efektif mengatasi cacing sekum (Heterakis gallinae) dan Ascaridia sp. pada unggas, tetapi phenotiazin tidak efektif untuk membasmi cacing pita. Walaupun mekanisme kerja obat ini belum diketahui dengan pasti tetapi dari segi keamanan phenotiazin praktis tidak toksik untuk unggas.
 
3.   Levamisol
Levamisol termasuk golongan Imidathiazole yang efektif membasmi cacing gilik dewasa hingga bentuk larvanya. Levamisol juga sangat efektif membasmi cacing gilik yang ada di jaringan dan organ tubuh (Syngamus trachea pada trakea, Oxyspirura mansonii pada mata) karena levamisol dengan cepat diserap dan didistribusikan ke jaringan atau organ. Saat kondisi sistem imun rendah, Levamisol dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh host (inang)-nya dengan cara meningkatkan aktifitas makrofag.
Dibandingkan dengan Benzimida-zol, Levamisol mempunyai rentang keamanan yang lebih sempit. Walaupun demikian pada dosis terapi terbukti tidak menimbulkan efek samping terhadap produksi telur, fertilitas mau-pun daya tetas.
 
4.   Ivermectin
Ivermectin lebih banyak digunakan pada hewan besar atau hewan kesayangan karena obat ini termasuk obat yang mahal. Keunggulan ivermectin adalah selain efektif mengatasi infeksi cacing gilik juga efektif mengatasi ekto-parasit (kutu, tungau, caplak, larva serangga). Selain itu, Ivermectin mampu membasmi bentuk cacing yang belum dewasa.

5.   Niclosamid
Niclosamid termasuk golongan Salicylanilida yang secara spesifik efektif untuk mengatasi infeksi cacing pita. Niclosamid diaplikasikan melalui ransum karena tidak larut air. Niclosamid tidak diserap dalam usus sehingga mempunyai batas keamanan yang luas. Hasil penelitian menunjukkan pemberian Niclosamid 40 kali dosis terapi pada sapi dan domba tidak bersifat toksik.
 
6.   Albendazol
Albendazol termasuk golongan benzimidazol yang mempunyai kelarutan terbatas dalam air. Umumnya digunakan pada hewan besar dalam bentuk kaplet atau suspensi dengan cara dicekok. Albendazol efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik pada saluran pencernaan, cacing pita, cacing paru dewasa dan larvanya (Dictyocaulus) dan cacing dewasa Fascioia gigantica.
Mekanisme kerjanya adalah meng-ganggu metabolisme energi dengan menjadi inhibitor fumarat reduktase. Ketidak-tersediaan energi menyebabkan cacing mati. Golongan Benzimidazol sebaiknya tidak digunakan saat masa kebuntingan awal.

Teknik Pengobatan

Teknik pengobatan harus dilakukan dengan tepat sehingga efektivitas pengobatan optimal.
 
1.   Pemilihan obat yang tepat
Obat cacing dikatakan efektif jika mempunyai spektrum kerja terhadap cacing tersebut. Pemilihan obat cacing didasarkan pada hasil diagnosa jenis cacing yang menginfeksi. Spektrum kerja obat cacing dapat dilihat pada tabel.
Obat yang cocok untuk mengatasi cacing gilik di saluran cerna (Ascaridia galli, Heterakis gallinae, Capillaria sp.,) antara lain Piperazin, Levamisol, dan Phenotiazin, Ivermectin atau Benzimidazol/Albendazole. Guna mengatasi cacing gilik yang ada di jaringan atau organ lain (Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) berikan Levamisol. Sedangkan infeksi cacing pita (Raillietina sp., Davainea sp.) gunakan Niclosamid atau Albendazol.
 
2. Dosis tepat
Tidak seperti antibiotik, umumnya anthelmintik diberikan dengan dosis tunggal (satu kali pemberian) dan bukan dengan dosis terbagi. Jika obat yang seharusnya diberikan sebagai dosis tunggal, tetapi diberikan dalam dosis terbagi misalkan terbagi dalam waktu satu hari, maka dapat menyebabkan jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh ayam menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

3. Cara pemberian tepat
Tepat dosis juga berkaitan dengan cara atau periode pemberian obat. Jika pemberiannya salah maka dosis pun menjadi tidak tepat. Pemberian obat dengan bentuk kapsul, kaplet atau injeksi tidak menjadi masalah karena bisa langsung dicekokkan atau disuntikkan dengan satu kali pemberian. Namun, jika dilakukan melalui air minum atau ransum dosis obat dan jumlah konsumsinya harus diperhatikan sehingga dosis yang masuk dalam tubuh ayam tepat.
Dosis pemberian obat sebaiknya sesuai dengan yang tertera dalam etiket atau leaflet. Dosis yang tertulis pada etiket dan leaflet obat cacing sebelumnya sudah dihitung berdasarkan berat badan yang kemudian dikonversikan dalam kebutuhan air minum atau ransum yang dikonsumsi dalam waktu 2 hingga 4 jam. Cara pencampuran obat ke dalam air minum atau ransum juga perlu diperhatikan. Obat cacing yang bersifat larut air (piperazin, levamisol) biasanya lebih direkomendasikan diberikan melalui air minum, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa diberikan melalui ransum. Pastikan obat larut semua dalam air minum dan tidak ada serbuk obat yang tersisa.
Obat cacing yang tidak larut air (contohnya Niclosamid, Albendazol) diberikan melalui ransum. Pencampuran obat dan ransum sebaiknya dilakukan secara bertahap. Campur dahulu obat dengan sebagian kecil ransum, aduk hingga homogen dan kemudian tambahkan sedikit demi sedikit sisa ransum sambil diaduk hingga obat dan ransum tercampur secara homogen.
Beberapa etiket produk biasanya tertulis ayam dipuasakan terlebih dahulu. Hal itu tidak menjadi suatu keharusan. Tujuan dari puasa tersebut adalah agar obat yang diberikan terkonsumsi habis oleh ayam dan waktu kontak antara obat dengan cacing di dalam saluran cerna semakin lama sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.

4. Pengulangan pemberian obat cacing
Pengobatan infeksi cacing memerlukan proses pengulangan. Pengulangan ini bertujuan membasmi cacing secara total karena secara umum obat cacing tidak bisa membasmi semua fase hidup cacing (telur, larva dan cacing dewasa).
Pengulangan tersebut disesuaikan dengan siklus hidup cacing dan kondisi kandang. Cacing gilik mempunyai siklus hidup 1-2 bulan sedangkan cacing pita sekitar 1 bulan sehingga pemberian obat cacing pertama kali disarankan saat berumur 1 bulan. Jika ayam dipelihara pada kandang postal, pemberian obat cacing perlu diulang setelah 1-2 bulan sedangkan jika dipelihara di kandang baterai, pengulangan 3 bulan kemudian karena ayam tidak kontak dengan litter.
Setelah periode pengulangan tersebut, bukan berarti obat cacing harus terus menerus diberikan pada bulan-bulan berikutnya. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan feses secara rutin sehingga adanya telur cacing dalam feses dapat terdeteksi sejak dini. Hal ini dapat dijadikan dasar perlu atau tidak pemberian obat cacing.

5. Kombinasi obat
Pemberian obat cacing kadang-kadang bersamaan dengan antibiotik jika ada infeksi sekunder oleh bakteri. Hal ini tidak masalah jika tidak ada interaksi yang merugikan (baik secara fisika-kimia maupun secara farmakologi) antara kedua bahan yang dikombinasikan. Jika kombinasi tersebut ternyata menimbulkan interaksi yang merugikan, pilih antibiotik lain atau antibiotik diberikan 1 hari setelah pemberian obat cacing.

Dari segi farmakologi, pemberian obat cacing bersamaan dengan vitamin umumnya tidak terjadi interaksi yang merugikan sehingga bisa dilakukan setiap saat. Pemberian obat cacing juga bisa bersamaan dengan vaksinasi. Pada dasarnya obat cacing tidak menimbulkan interaksi dengan vaksin terutama jika pemberian obat cacing diberikan melalui oral (air minum/ransum/cekok) dan vaksinnya diberikan melalui injeksi. Namun yang perlu diperhatikan ialah jika vaksin diberikan melalui air minum, maka jangan mencampurkan obat dan vaksin dalam air minum yang sama. Tujuannya untuk mencegah terganggunya stabilitas vaksin oleh obat yang ada dalam air minum tersebut.

6. Faktor lain yang perlu diperhatikan

Pengobatan cacing menyebabkan cacing dan telur cacing dalam jumlah besar akan dikeluarkan bersama feses. Jika lingkungan sekitar mendukung, maka telur tersebut akan berubah menjadi bentuk infektif sehingga dapat kembali menginfeksi ayam. Untuk itu, selama pengobatan sebaiknya memperhatikan meminimalkan kontak ayam dengan feses yang mengandung telur cacing atau ayam dipelihara dalam kandang panggung atau baterai. Bersihkan kandang dan cegah “litter” jangan lembab.
Selain itu, basmi inang antara seperti semut, lalat dan siput dengan insektisida. Namun, jangan sampai insektisida mengenai ransum, air minum atau ternaknya.

7. Resistensi obat cacing

Resistensi tidak hanya terjadi pada mikrobia terhadap antibiotik saja, tetapi cacing juga bisa menjadi resisten terhadap anthelmintik. Hingga saat ini resistensi cacing yang pernah dilaporkan terjadi antara lain Oesophagostomum spp yang menginfeksi babi resisten terhadap Pyrantel dan Levamisol atau Cyathostomes pada kuda resisten terhadap Benzimidazol.
Kasus resistensi tersebut kemungkinan besar karena penggunaan obat cacing yang terlalu sering dalam satu tahun (5-12 kali). Meskipun penelitian tentang resistensi cacing pada ayam belum ada, tetapi mulai saat ini kita harus melakukan pencegahan jangan sampai resistensi tersebut terjadi.

Resistensi cacing terhadap obat dapat ditekan dengan cara:
 
a. Perbaikan tata laksana pemeliharaan sehingga perkembangbiakan cacing dapat ditekan.
b. Lakukan pemeriksaan feses secara berkala sebagai acuan perlu tidaknya ayam diberikan obat cacing.
c. Berikan obat cacing sesuai dengan dosis yang direkomendasikan, jangan berlebih maupun kurang.
d. Rotasi atau penggantian jenis obat cacing yang digunakan setiap 1-2 tahun. Namun kendalanya jenis obat cacing dari golongan yang berbeda sangat terbatas. Contoh rotasi anthelmintik ialah piperazin dengan levamisol yang sama-sama efektif mengatasi infeksi cacing gilik.
e. Perhatikan kondisi lingkungan kandang terutama jika lantai lembab, mengingat bentuk telur dan larva cacing bisa saja masih berada di sekitar kandang.
f. Perlu pendataan jenis obat cacing yang digunakan selama masa pemeliharaan ayam dan memonitor efektifitas pengobatannya.
 
Meski penyakit cacingan tidak ganas namun perlu diwaspadai dan dikendalikan. Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan kombinasi antara pengobatan cacing secara rutin dan pencegahan dengan dilakukannya tatalaksana kandang dan lingkungan sekitar kandang dengan baik.

_____________________________________________________________________

 MENCEGAH KANIBAL PADA LAYER

Kebiasaan mematuk oleh layer terhadap sesamanya atau telurnya sendiri atau telur dari ayam lain adalah bersifat alami, yaitu adanya sifat untuk mendominasi dan keinginan makan enak. Namun dalam prakteknya bisa dipicu atau diperparah oleh sejumlah hal, seperti kondisi layer yang kurang gizi terkhusus protein dan mineral kalsium, adanya penyakit pencernaan yang bersifat kronis yang mengakibatkan gangguan penyerapan gizi, stress yang menjadikan layer jadi lebih agresif, dan kondisi kerabang telur yang retak atau pecah saat “laying”. Kanibalisme ini cukup mengganggu produktifitas dan meningkatkan angka mortalitas, pada akhirnya akan mengakibatkan peningkatan harga pokok pelurroduksi (H.P.P) telur kita.
Sejumlah solusi yang bisa mengurangi kejadian kanibalis :
1. Potong Paruh
Potong paruh pada masa growing dilakuka 2 (dua) kali, yaitu setelah menetas (D.O.C), biasanya dilakukan oleh pihak “hatchery” dan pada umur 9 minggu, dengan baik dan benar akan sangat berpengaruh untuk mengurangi sifat kanibal.
2. “Grading” pada masa peremajaan (growing)
Pullet dilakukan seleksi dan “grading” berdasarkan bobot badan untuk menghasilkan tingkat keseragaman yang tinggi di atas 85%, sehingga tidak ada ayam yg bisa mendominasi kawannya. Ayam dikelompokkan di dalam petak-petak dengan bobot badan yang sama atau setara. Seleksi dan “grading” dilakukan pada masa peremajaan sebanyak 3 (tiga) kali : 2.1. umur 4 (empat) minggu, akhir masa pre-starter;
2.2. umur 8 (delapan) minggu, akhir masa starter;
2.3. umur 12 (dua belas) minggu, akhir masa “grower”.
Targetnya :
> bobot badan mencapai standar sesuai umur dan strainnya;
> keseragaman bisa mencapai 85%;
> Co-effeisient of Variation (C.V) maksimum 8%
3. “Grading” pada masa pre-laying (menjelang bertelur) hingga “laying”
Dilakukan berdasar tingkat kematangan seksual, dengan memperhatikan perkembangan jengger, panjang kaki bawah (shank) dan atau lebar tulang panggulnya (os pubis).
4. Pengaturan Kepadatan
Kurangi seminimal mungkin jumlah individu per sangkar. Idealnya 1 ekor per sangkar paling mantap. Maksimal 2 ekor per sangkar dengan ukuran lebar 30 cm, panjang ke belakang 40 cm dan tampungan telur ke depan 20 cm supaya telur yang keluar tidak bisa dijangkau oleh ayam.
5. Cukupkan Jumlah Dan Kualitas Pakan
Berikan pakan dalam jumlah cukup dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup maupun produksinya, terkhusus protein, minimum 21 gram/ekor/hari, Methabolis Energy (M.E) minimum 320 Kcal/ekor/hari dan keseimbangan kalsium (Ca), 3,6 – 4,0% dalam pakan dan fosfor (P), 0,9 – 1,0%. Mikro mineral juga harus tercukupi. Ingat, layer yang kenyang akan lebih kalem pembawaannya atau tidak agresif.
5. Pemberian “Grit”
Pemberian menir batu (grit) kapur berdiameter 2 – 4 mm dengan dosis 1 gram per ekor per hari, rutin setiap sore hari ditaburkan langsung di tempat pakan. Bisa juga dicampurkan di pakan. Sangat membantu memperkuat kerabang telur sekaligus memuaskan naluri mematuk.
6. Program Anti Ekto Parasit (Kutu, Gurem) Dan Endo Parasit (Cacing)
Adanya ekto parasit di kulit dan endo parasit di dalam usus bisa menjadikan ayam lebih lemah yg akan memancing agresifitas terhadap kawannya dalam satu sangkar atau sangkar di sebelahnya. Lakukan pemberantasan ekto-endo parasit setiap bulan dengan preparat Ivemectine Oral.
7. Berikan Musik
Pasang “music player” non-stop dengan berspeaker besar yang mampu menghasilkan frekwensi suara 30 – 40 dB, untuk memberi alunan musik pada layer. Hal ini sangat sangat membantu mengurangi stress dan sifat agresifnya, terutama saat siang hari. Jenis musik terserah aja, dianjurkan jenis yg kalem.
8. Silau
Kondisi di dalam kandang yang terlalu terang bahkan silau, dapat memicu terjadinya kanibalis. Maka, bisa dikurangi dengan memasang jaring anggrek di samping kanan kiri kandang dengan tingkat pengurangan cahaya 60-80%.

 _______________________________________________________________________

KANDANG AYAM TERBUKATIPE F.A.E

 (FUTURISTIK, AERODINAMIS, EKONOMIS)

(oleh Winarno)
Faktor-faktor Yang Berpengaruh Dan Menentukan Keberhasilan Beternak :
1.    Bibit ………………………………. 10%
2.    Kandang …………………………. 10%
3.    Nutrisi …………………………….. 20%
4.    Manajemen Pemeliharaan ……… 50%
5.    Keberuntungan ………………….. 10%
Bahasan kali ini saya fokuskan pada sistem perkandangan yang baik dan benar berdasarkan pengalaman pribadi dimana saya sebagai pengelola peternakan, dituntut harus bisa mendapatkan performance ayam yang baik. Diharapkan bisa mencapai standar seperti yang ditulis oleh perusahaan pembibitan di dalam buku manualnya.
Idealnya, lokasi peternakan atau farm ayam ras petelur, pedaging dan atau pembibitan, berada di dataran yang tingginya antara 300-700 meter di atas permukaan laut (DPL). Karena ayam ras ini sejatinya tidak tahan panas karena nenek moyangnya berasal dari daerah sub-tropis, dingin dan kering. Pada ketinggian 300 – 700 meter DPL akan didapat suhu dan kelembaban yang ideal bagi hidup dan kehidupan ayam, yaitu pada :
1. suhu antar 20° - 27° Celcius;
2. kelembaban relatif (relative humidity = R.H) antara 50 – 70%;
3. heat index (H.I) antar 150 – 155, nyaman untuk hidup ayam.
Bila lokasi farm yang dipunyai di dataran rendah, < 300 m DPL, maka perlu dilakukan penyesuaian dari sisi kontruksi dan tata letak kandang. Lebih-lebih dengan adanya isu efek global warmming dimana bumi semakin panas. Diperkirakan dalam waktu 10-20 tahun ke depan suhu bumi naik 1-2° Celcius. Pada hal ayam tidak tahan panas, maksimum 30° Celcius. Bila suhu tempat hidup ayam suhunya lebih dari 30° C, bisa menyebabkan heat stress dan bahkan heat stroke, berakibat mati karena pecah pembuluh darah di organ dalamnya.
Syarat Kandang Ayam Terbuka Tipe Futuristik, Aerodinamis dan Ekonomis (F.A.E)
1. Arah memanjang kandang ayam, timur – barat :
Ø Hal ini untuk mendapatkan ventilasi yang maksimum. Mengingat letak geografi Indonesia yang berada di katulistiwa, hanya ada 2 (dua) musim, hujan dan kemarau. Sedangkan arah angin di Indonesia secara umum dari utara ke selatan dan pada musim berikutnya dari selatan ke utara. Sehingga, begitu ada angin bertiup, bisa langsung menggantikan udara kotor di dalam kandang dengan udara bersih;
Ø Ayam tidak perlu kena matahari langsung karena ayam tidak tahan panas dan bila kena matahari langsung dalam waktu yang cukup lama (berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu), bisa menyebabkan kerusakan bulu dan kulitnya.
 
2.    Lebar kandang maksimum 8 (delapan) meter :
Ø Alasan pertama, karena panjang kayu pada umumnya adalah 4 (empat) meter. Tetapi panjang bersih yang bisa dimanfaatkan 3,8 meter. Belum lagi dikurangi panjang sambungan di ujung-ujung kayu. Sehingga panjang kayu efektifnya hanya 3,5-3,6 meter. Bila lebar kandang 7 meter, berarti pakai 2 batang kayu;
Ø Alasan kedua, untuk mendapatkan ventilasi di dalam kandang ayam yang lebih baik;
Ø Bila mau membuat kandang ayam lebih lebar, misalnya 10-12 meter, maka yang perlu diperhatikan tinggi tiang kandang, sebaiknya tinggi tiangnya total 6,5 meter. Hal ini untuk menjamin suhu di dalam kandang tidak lebih dari 30° C dengan ventilasi udara tetap lancar. Sudut atap dibuat miring minimum 45° supaya udara panas bisa cepat naik dan diganti dengan udara dari bawah atau dari samping. Caranya, tiang kuda-kuda tingginya setengah dari lebar kandang. Keuntungan kandang lebar 10 – 12 meter, biaya kandang menjadi lebih murah bila dihitung per ekornya (ekonomis).
 
3.    Panjang kandang ayam :
Ø Panjang kandang ayam terbuka tipe F.A.E, bisa tak terbatas tergantung ketersediaan lahannya;
Ø Bila mengikuti ukuran kayu, maka seyogyanya jarak antar tiang 3,5 – 3,6 meter. Semakin panjang kandang ayam yang dibuat, biayanya semakin ekonomis per ekornya. Hanya, ada sedikit kendala bila kandang terlalu panjang, lebih dari 100 meter, yaitu kerataan tanahnya, agak sulit mendapatkan kerataan yang sesuai water pass bila terlalu panjang. Sehingga menjadi lebih sulit dalam pemasangan talang air minum ayam. Tetapi bila distribusi air minumnya pakai nipple, tidak terlalu masalah dengan kerataan tanah. Distributor air bisa dipasang di bagian tengah kandang.
 
4.    Kandang ayam terbuka tipe F.A.E harus tinggi
Alasannya :
> pada ketinggian 50 cm dari tanah, kadar ammonia dari kotoran ayam masih sangat tinggi, >100 ppm;
> pada ketinggian 100 cm dari tanah, kadar ammonia masih tinggi, <50 ppm;
> pada ketinggian 150 cm dari tanah, kadar ammonia sudah relative rendah, <15 ppm, sudah tidak berpengaruh ke saluran pernapasan ayam dan tidak iritasi mukosa hidung dan mata ayam;
> Maka, bila ditinjau dari ketersediaan oksigen yang akan dihirup oleh ayam tanpa terganggu oleh adanya ammonia, maka tinggi sangkar ayam yang paling bawah seyogyanya di atas 150 cm dari tanah.
> Kemudian, jarak sangkar yang paling atas ke atap, minimum 2 meter, hal ini untuk mengurangi efek panas dari atap. Jadi, total tinggi tiang kandang seharusnya 6,5 meter. Posisi sangkar ayam berada di tengah-tengah ketinggian kandang.
 
5. Atap bertingkat :
> Atap kandang ayam terbuka dibuat bertingkat (atap monitor);
> Sudut kemiringan atap dibuat minimum 45° atau tinggi tiang tengah, ½ dari lebar kandang. Bila lebar kandang ayam 7 m, maka tinggi tiang tengah kuda-kuda 3,5 m;
> Tujuannya, udara panas di dalam kandang segera terhisap naik, dengan demikian udara di dalam kandang segera diganti dengan udara yang segar, tidak sampai terjadi ”mati angin”. Suhu di dalam kandang bisa di bawah 30° C, pengaruh panas dari luar kandang bisa diredam (futuristik);
> Atap sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak menyerap panas tetapi justru memantulkan panas. Ada 2 pilihan, asbes atau galvalum (seng aluminium).
 
6.    Jarak antar kandang :
> Bila kandangnya lebih dari 1 unit, jarak antar kandang diukur dari tiris (ujung atap) ke tiris kandang di sebelahnya, minimum selebar kandang;
> Tujuannya, untuk menjamin ventilasi di dalam masing-masing kandang mengalir lancar (aerodinamis) dan mengurangi resiko penularan penyakit.
 
7.    Material kandang :
Bisa dibuat dari bambu, kayu bulat, kayu gesek, kayu pohon kelapa, besi bulat, besi kanal “C” atau “U” atau pun beton cor. Tergantung dari anggaran yang tersedia. Bila material yang dipakai berkualitas dengan harga mahal, maka umur pakainya pun lebih lama.
 
8. Dengan kandang ayam petelur terbuka tipe F.A.E ini, susut/deplesi pada ayam petelur bisa kurang dari 10% seperiode, sampai dengan umur 80 minggu. Sehingga performance dalam satu periode hen house-nya, bisa mencapai rata-rata minimum 20 kg telur per ekor. Modal investasinya kurang lebih 4 tahun bisa kembali. Bila pakai kandang sistem tertutup (close housed), biaya investasi, operasional dan perawatannya, mahal. Modal investasinya minimum 7 tahun baru kembali.
 
PENGARUH AMONIA PADA MANUSIA DAN UNGGAS

 

  

FOTO 1. Material kayu                 FOTO 2. Material Besi

SEDANG MEMBANGUN KANDANG TERBUKA TIPE F.A.E

 

KANDANG PANGUNG TERBUKA TIPE F.A.E

 

BEBERAPA KANDANG AYAM TERBUKA TIPE F.A.E

 

BANGUNAN SANITASI KENDARAAN

 

"SLAT" PLASTIK

 

KANDANG AYAM TERBUKA LANTAI PANGGUNG (SLAT)

 

 KANDANG PEREMAJAAN AYAM PETELUR, SUDAH ISI

 

 

INDUKAN (BROODER) DENGAN PENGHANGAT GAS BROODER DAN CHICK GUARD SENG SETINGGI 60 CM

 

INDUKAN (BROODER SET)

  _______________________________________________________________________

TEKNIK PEMBERIAN PAKAN PADA LAYER DI DAERAH TROPIS

 

FOTO 1. LAYER MODERN
 
Pemberian pakan pada layer di daerah tropis yang paling tepat adalah 1 (satu) kali saja, pada pukul 15:00 waktu setempat. Tujuan ditulis artikel ini supaya benar-benar jelas (clear) dan tidak terjadi simpang siur pengertiannya. Kalau baik dan benar, silakan diterapkan, maka Anda yg untung. Kalau dianggap tidak baik, lupakan dan Anda tidak rugi.
Alasannya
1. Ingat, ayam adalah pemakan biji-bijian. Pakan berbentuk biji/butir lebih disukai dibanding bentuk tepung (mash);
2. Secara alami, dorongan ayam untuk makan terutama adalah untuk mencukupi kebutuhan akan energi/kalori karena ayam bersuhu tubuh tinggi, 40˚ C (manusia 37˚ C). Sedangkan komponen pakan yg lain, “numpang” untuk melengkapi gizi;
3. Secara alamiah, nafsu makan ayam terbanyak (70-80%) pada sore hari, 3 (tiga) jam sebelum gelap karena matahari tenggelam. Saat tanpa cahaya, mata ayam akan rabun atau buta;
4. Malam sampai dini hari, pukul 18:00-01:00 waktu setempat (7 jam), tanpa lampu tambahan, biarkan ayam tidur. Makhluk hidup perlu istirahat yg cukup, 7 – 8 jam. Kalau toh lampu dinyalakan pada pukul 18:00 – 22:00 waktu setempat, sisa cuaca panas sore hari masih ada, belum benar-benar dingin;
5. Berikan sinar tambahan pada pukul 01:00-06:00 waktu setempat (5 jam) dengan dosis : lampu neon SL 0,8 – 1,0 Watt/m-2 luas dalam kandang atau lampu pijar 3,0 – 3,5 Wat/m-2. Supaya memudahkan pengaturan, instalasi listrik penerangan di dalam kandang mesti dipasangi "timer" untuk mengatur nyala lampu secara terprogram. Keuntungannya, bisa dipastikan pada dini hari cuacanya dingin, begitu lampu menyala pada pukul 01:00 waktu setempat, ayam akan bangun dan makan. Saat cuaca dingin lah, ayam akan lebih suka makan tanpa resiko “heat stress”;
6. Pada pagi hari, antara pukul 06:00-07:00 waktu setempat, sisa pakan diratakan. Seharusnya masih tersisa -/+1,5 cm;
7. Pada pukul 09:00 waktu setempat, pakan diratakan lagi. Yang tebal dipindah ke bagian yang tipis dan standarnya pakan yang tersisa -/+ 0,5 cm. Bila pada pukul 09:00 waktu setempat pakannya habis, langsung ditambah 2 - 3 gram/ekor, dibagi secara merata. Ini sebagai catatan bahwa, jatah pakan yang akan diberikan nanti sore pukul 15:00 waktu setempat perlu ditambah 2 - 3 gram/ekor supaya besuknya bisa pas;
8. Pada pukul 12:00 waktu setempat, pakan harus sudah habis. Ini yang dipakai sebagai patokan “feed intake” harian dan bisa berubah setiap harinya. Puasakan makan selama 3 jam dari pukul 12:00 -15:00 waktu setempat, setiap hari. Jangan puasakan ayam lebih dari 1 (satu) kali dalam sehari, berdosa. Tapi air minum harus selalu tersedia (ad libitum);
9. Bila pada pukul 12:00 waktu setempat pakan belum habis, dikuras. Hasil kurasan pakan ditimbang. Bisa diberikan nanti pada pukul 15:00. Karena ada pakan sisa, maka jatah pakan sore hari dikurangi sebanyak 2 (dua) kali sisa pakan supaya jatah pakan supaya jatah untuk besuk bisa pas, jam 12:00, habis;
10. Dengan program pengosongan pakan 3 (tiga) jam pada siang siang hari manfaatnya :
10.1. bisa mengurangi resiko stres akibat panas (heat stress);
10.2. tempat pakan selalu bersih terhindar dari jamur;
10.3. supaya ayam memakan semua komponen pakan baik yang berbentuk butiran mau pun yang berbentuk tepung (mash).
Makanya, perlu didukung pemotongan paruh ayam pada umur 9 minggu, harus rata. Selain untuk mengurangi kanibal supaya bisa makan dengan baik walau pun pakannya berbentuk tepung;
11. Ayam lah yg menentukan berapa jatah pakannya (feed intake) yang dia butuhkan. Tugas peternak menyediakan pakan jumlahnya cukup dengan kualitas baik dan benar, seimbang komponen-komponen penyusunnya.
Ingat, ayam tidak tahu harga pakan yang dimakan. Ayam tahunya tinggal makan;
12. Dari metode pemberian pakan 1 (satu) kali ini, bila dicatat dengan baik dan benar, maka peternak bisa mengevaluasi dan tahu korelasi antara kualitas pakan dengan :
a. feed intake (asupan pakan) yang tepat;
b. bobot badan ayam;
c. HD%;
d. bobot telur (egg weight) per butir;
e. bobot kg telur per 1.000 ekor (egg mass);

             f. FCR.


Deviasi
Bila performance-nya masih kurang baik dibanding standar strain, terjadi deviasi, lakukan lah perubahan-perubahan yang terukur. Atau konsultasikan dengan orang yang benar-benar ahli di bidang manajemen peternakan dan sekaligus ahli nutrisi unggas.
Al hasil, produktifitas ayam layer baik, sedang atau jelek jangan tahunya karena kebetulan, tapi harus diketahui berdasarkan data riil di farm Anda. Perubahan yang akan dilakukan pun harus berdasar alasan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara profesional. Bukan katanya katanya. Karena tiap-tiap daerah perlu penyesuaian-penyesuaian kandungan gizi pakannya.

Semoga bermanfaat dan sukses.

 ________________________________________________________________________

GRIT, PENGERTIAN DAN MANFAATNYA

Yang dimaksud “grit” adalah biji atau menir batu.
 
JENIS
1.   yang bisa dicerna (digestable), berasal dari batu kapur;
2. yang tidak bisa dicerna (un-digestable), berasal dari batu sungai atau gunung.
 
  

                    FOTO 1. DIGETABLE GRIT            FOTO 2. UN-DIGESTABLE GRIT

 
UKURAN
Yang biasa dipakai ukuran diameter 3-4 mm
 
FUNGSI
1.     DIGESTABLE GRIT
Grit ini wajib ditambahkan ke dalam pakan pada ayam petelur atau ayam induk masa produksi (laying period) sebagai sumber kalsium slow release (lepas lambat). Hal ini untuk menjaga kualitas kerabang telur agar tetap baik. Yang diperlukan grit ukuran diameter 3 – 4 mm. Kalau pakai ukuran kecil, 1 – 2 mm, relatif cepat habis. Hal ini mengingat proses pembentukan kerangbang telur di dalam uterus perlu waktu selama -/+ 20 jam. Kalau sumber kalsium yang berbentuk tepung (limestone = tepung batu kapur, DCP, MCP, tepung tulang) mudah dicerna dan cepat diserap, cepat masuk ke peredaran darah, tapi juga cepat habis (6 – 12 jam) untuk proses kalsifikasi kerabang telur. Sedangkan proses pembentukan kerabang telur belum selesai.
Dosis tambahan (additive) grit, cukup 1 (satu) gram per ekor per hari. Bisa diberikan langsung dengan cara ditaburkan di wadah pakan pada pukul 16:00 waktu setempat, karena penyerapan kalsium yang optimal pada saat ayam tidur. Cara ini resikonya menambah repot karyawan kandang dan sulit dikontrol pemberian dan kerataan pemberiannya.
Pakan jadi atau konsentrat buatan pabrik pakan, pasti sudah ada kandungan kankalsium baik yang berbentuk tepung mau pun butiran (grit). Tapi pada umumnya, kadarnya sampai batas minimum atau paling banyak batas sedang saja. Maka, saya sebagai peternak tetap menambahkan grit dengan dosis 1 (satu) gram per ekor per hari. Dan, untuk memudahkan pekerjaan, saya campurkan di pakan pakai mixer.
Bila pakan dari pabrik dimana kandungan kalsium pada dosis maksimum, yaitu 4% (batas normal kadar kalsium 3,6 – 4%), tidak perlu khawatir dengan penambahan grit selama kelebihannya tidak lebih dari 20%, masih bisa ditoleransi. Kadar kalsium dalam pakan yang jumlahnya kelebihan, akan dibuang bersama kotoran (faeces). Misal, di dalam pakan jadi/komplit, kadar kalsiumnya 3,8%, feed intake (jatah pakan) 115 gram/ekor/hari, maka konsumsi kalsiumnya 115 gram x 3,8% = 4,37 gram. Ini pun tidak semua digestable. Sedangkan kadar kalsium (Ca) dalam grit  50%. Jadi tambahan Ca intake setara dengan 1 gram x 50% = 0,5 gram. Total Ca intake 4,87 gram. Batas normatif Ca intake 4,4 gram/ekor/hari. Berarti ada lebih 0,47 gram, setara dengan 0,47 : 4,4 = 10,7%. Masih dalam batas toleransi. Harga grit antara Rp 700 - 1.000,- per kg.
 
2.     UN-DIGESTABLE GRIT
Secara alamiah, di alam bebas, ayam akan selalu memakan biji/menir batu untuk membantu proses mencerna makanan secara mekanis, tetapi tidak ikut tercerna (un-digestable). Fungsinya seperti alat tumbuk biji jagung (Jawa : alu) menjadi tepung jagung. Biji batu yang dimakan ayam setelah 3 - 4 hari akan keluar dari saluran pencernaan dengan sendirinya. Dan, ayam akan mencari penggantinya, demikian seterusnya. Ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif, bila dibedah saluran pencernaannya, selalu ditemukan biji batu beberapa butir.
Pada pemeliharaan pullet, grit (harus sudah dibersihkan dan disterilkan) hendaknya diberikan mulai umur 29 hari (minggu ke-5) sampai masa developer, menjelang pre-layer. Sementara pada masa peremajaan, kebutuhan kalsium masih sedikit, hanya untuk pertumbuhan tulang, makanya yang diperlukan adalah grit yang un-digestable. Hal ini bertujuan untuk membantu proses mencerna makanan secara mekanis supaya efisien dan merangsang otot ampela menjadi lebih tebal dan kuat. Silakan melakukan penelitian sendiri untuk membuktikan dengan membandingkan antara ampela ayam dengan perlakuan grit dengan ayam tanpa perlakuan grit, diukur dan ditimbang ampelanya.
Ampela (gizzard) ini berfungsi sebagai “mesin giling” makanan bagi ayam. Dengan otot ampela yang lebih tebal dan kuat sejak masa peremajaan, diharapkan nanti pada saat masa produksi (laying period), “mesin giling” bisa berfungsi maksimum dalam mencerna makanan secar mekanis di saluran pencernaan. Makanan yang sudah dicerna dengan cepat dan halus secara mekanis, akan memudahkan proses mencerna secara enzimatis.
Pada ayam broiler, un-digestable grit bisa diberikan mulai umur 15 hari sampai panen. Tujuan utama adalah membantu mencerna makanan secara mekanis sehingga bisa didapat efisiensi makanan (FCR menjadi lebih baik).
 
UKURAN TEMBOLOK
Pemberian grit ini tidak berpengaruh terhadap ukuran tembolok. Tips ntuk melatih dan merangsang ukuran tembolok supaya menjadi lebih besar, bisa dilakukan dengan 2 (dua) cara sekaligus :
1.   pemberian makanan yang dibasahi secukupnya, kadar air 30 – 35%, bila digenggam menggumpal tapi tidak keluar air. Berikan 2 (dua) kali sehari, pagi dan sore, sejak umur 2 minggu sampai umur 16 minggu. Ingat, pemberiannya harus terukur bisa habis dalam tempo 1 – 2 jam, tidak berlebih. Kalau tidak habis, beresiko berjamur. Nah, air yang dipakai untuk membasahi makanan, boleh diberi multi vitamin sesuai dosis anjuran dari pabriknya.
2.   Program puasa makanan tetapi air minum disediakan terus tanpa batas, secara ad libitum. Latihan puasa makan ini bisa dimulai pada :
2.1. umur minggu ke-9 (grower), puasakan selama 1 (satu) jam pada siang hari pukul 12:00 – 13:00 waktu setempat;
2.2. Tambah umur seminggu (umur 10 minggu), puasanya ditambah 1 (jam) menjadi 2 (dua) jam, pada pukul 12:00 – 14:00 waktu setempat.
2.3. Tambah umur seminggu (umur 11 minggu), puasanya ditambah 1 (satu) jam lagi menjadi 3 (tiga) jam, pada pukul 12:00 – 15:00 waktu setempat, dan seterusnya sampai masa produksi dan sampai ayam diafkir;
2.4. Puasa makan hanya 1 (satu) kali per hari dan maksimum 3 (tiga) jam per hari. Manfaat lain puasa makan 3 jam ini supaya ayam memakan makanan yang berbentuk tepung, bukan hanya yang butiran saja dan mengurangi resiko kepanasan (over heated) saat siang hari suhu panas.
 
Sekian uraian singkat tentang grit, semoga bermanfaat. Salam sukses dari saya, Winarno (http://www.obat-pembasmi-lalat.com).

________________________________________________________________________

 PEMANFAATAN PROBIOTIKA UNTUK MENINGKATKAN PENAMPILAN PRODUKSI UNGGAS

Oleh Winarno,

PENDAHULUAN  

Jumlah penduduk dunia, khususnya Indonesia yang semakin banyak dan berkembang pesat berakibat pula terhadap perkembangan usaha di sektor peternakan.  Sektor peternakan dituntut untuk dapat menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk Indonesia berupa protein hewani agar manusia Indonesia dapat menjadi manusia yang sehat, cerdas dan kuat.  Untuk memenuhi permintaan akan protein hewani tersebut, salah satu sektor usaha peternakan yang cukup memadai untuk menjadi andalan adalah peternakan unggas, terutama ayam broiler dan ayam petelur.

Usaha peternakan di bidang perunggasan (ayam) dewasa ini semakin berkembang pesat dan meningkat sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah penduduk yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi proteinnya.  Oleh karena itu usaha peternakan ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar selalu menguntungkan serta produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Dalam dunia industri peternakan, khususnya peternakan unggas, pemberian makanan tambahan berupa feed additive atau supplement biasa dilakukan. Pemberian feed additive tersebut dilakukan untuk memperbaiki penampilan produksi dari ternak unggas.  Bermacam-macam jenis feed additive antara lain adalah obat-obatan, antibiotika atau hormon-hormon pertumbuhan.  Akan tetapi pemberian feed additive tersebut belakangan ini tidak memuaskan karena sedikit banyak mempunyai efek samping yang kurang baik, baik terhadap hewan ternaknya sendiri, maupun terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya.  Sebagai contoh pemberian antibiotika dapat menyebabkan resistensi terhadap suatu penyakit sehingga penyakit tersebut sulit untuk disembuhkan dan bahkan dapat menyebabkan timbulnya jenis penyakit baru. Penggunaan hormon-hormon pertumbuhan bisa menyebabkan efek yang kurang baik terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya, karena residu yang tertinggal dari hormon-hormon di daging ayam atau telur, secara tidak langsung akan ikut terkonsumsi juga oleh manusia yang memakannya dan terakumulasi dalam tubuh.  Belakangan ini mulai berkembang makanan tambahan jenis baru berupa probiotika.

Probiotika merupakan suatu makanan tambahan atau feed additive, berupa mikroorganisme hidup, baik bakteri, jamur maupun yeast (kapang) yang diberikan melalui campuran ransum atau air minum.

Tujuan pemberian probiotika adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba di dalam saluran pencernaan, dimana mikroba-mikroba yang menguntungkan populasinya akan meningkat dan menekan pertumbuhan mikroba yang merugikan yang sebagian besar adalah mikroba penyebab penyakit  (mikroba patogen). Pemakaian probiotika ini tidak mempunyai pengaruh yang negatif baik kepada ternaknya sendiri , maupun kepada manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya. Pemberian probiotika juga sering digunakan sebagai alternatif untuk membatasi penggunaan antibiotika yang terlalu sering dalam pengobatan penyakit, untuk menghindari resitensi suatu penyakit. Selain itu pemberian probiotika juga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi mikroba penyebab penyakit (mikroba patogenik) terhadap produk-produk hasil unggas, sehingga produk-produk yang dihasilkan terjaga kehigienisannya.  Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan akan mampu memperbaiki penampilan produksinya, baik kuantitas yaitu jumlah ternak, daging atau atau telur yang dihasilkan lebih banyak, maupun kualitasnya berupa produk-produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
  
DEFINISI PROBIOTIKA
 
Istilah “probiotika” berasal dari bahasa Yunani yang artinya dalam ilmu biologi berarti untuk kehidupan.  Istilah tersebut pertama kali digunakan untuk menjelaskan substansi (zat) yang disekresikan oleh suatu mikroba/mikroorganisme yang dapat memicu pertumbuhan. (Fuller, 1992).

Istilah probiotika didefinisikan kembali oleh Fuller pada tahun 1989 bahwa probiotik adalah sebagai bahan makanan tambahan berupa mikroba hidup baik bakteri, jamur maupaun kapang/yeast yang mempunyai pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang dengan memperbaiki keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Fuller, 1992).  Mikroba- mikroba tersebut secara alami telah ada dalam tubuh hewan, ternak atau manusia, dan merupakan bagian pertahanan tubuh karena membantu tubuh hewan, ternak atau mikroba-mikroba yang berbahaya bagi kesehatan. Di dalam saluran pencernaan, mikroba-mikroba ini mendukung kesehatan saluran pencernaan.

Mc. Naught and MacFie (2000) mengemukakan bahwa probiotika bisa dikatakan mempunyai status probiotika bila memenuhi sejumlah kriteria sebagai berikut :

1. Bisa diisolasi dari hewan inang dengan spesies yang sama;

2. Mampu menujukkan pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang;

3. Tidak bersifat pathogen;

4. Bisa transit dan bertahan hidup dalam saluran pencernaan hewan inang;

5. Sejumlah mikroba harus mampu bertahan hidup pada periode yang lama selama dalam penyimpanan.

Walaupun istilah mikroba yang berkaitan dengan makanan tambahan (feed supplement) baru dimulai sekitar tahun 1974, tetapi penggunaan mikroba hidup sebagai makanan tambaahan telah dimulai dari ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya. Makanan yang pertama kali sekali mengandung mikroorganisme hidup adalah susu fermentasi (Fuller, 1992), dan saat ini dikenal sebagai dadih di Sumatra Barat dan yoghurt yang banyak  dijual di pasaran.

Mekanisme kerja dari probiotik masih banyak yang kontroversi, tetapi beberapa mekanisme berikut penting untuk menjadi bahan pertimbangan antara lain adalah :

1. Melekat Atau Menempel Dan Berkolonisasi Di Dalam Saluran Pencernaan
Kemampuan probitika untuk bertahan hidup di dalam saluran pencernaan dan menempel di sel-sel usus adalah sesuatu yang diinginkan. Hal ini merupakan tahap pertama untuk berkolonisasi, dan selanjutnya dapat dimodifikasi untuk sistem imunisasi/kekebalan hewan inang.  Kemampuan menempel yang kuat di sel-sel ini akan menyebabkan mikroba-mikroba probiotika berkembang dengan baik dan mikraba-mikroba patogen akan ter-reduksi dari sel-sel hewan inang sehingga perkembangan organisme-organisme patogen yang menyebabkan penyakit tersebut, seperti   Eshericia coli, Salmonella thyphimurium dalam saluran pencernaan akan mengalani hambatan.  Sejumlah probiotik telah memperlihatkan kemampuan menempel yang kuat di sel-sel usus manusia seperti Lactobacillus casei, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus plantarum dan sejumlah besar Bifidobacteria. (McNaught and MacFie, 2000). 
 
2. Berkompetisi Terhadap Makanan Dan Memproduksi Zat Anti Mikroba

Mikroba probiotika menghambat organisme patogenik  dengan berkompetisi untuk mendapatkan sejumlah terbatas substrat bahan makanan untuk difermentasi. Substrat bahan makanan tersebut diperlukan agar mikroba probiotika dapat berkembang biak dengan baik. Substrat bahan makanan yang mendukung perkembangan mikroba probiotika dalam saluran pencernaan disebut “pre-biotika” (Petterson and Burkholder, 2003). Prebiotika initerdiri dari bahan-bahan yang pada umumnya banyak mengandung serat. Pada makanan manusia, pre-biotika dapat ditemukan pada beberapa jenis makanan seperti biji-bijian, sayur-sayuran seperti brokoli, kembang kol, sayuran hijau, buah-buahan, produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, tauco, beberapa sumber karbohidrat sperti terigu, bawang merah dan bawang Bombai (Anonymous, 2003 dan 2004).

Sejumlah mikroba probiotika menghasilkan senyawa/zat-zat yang diperlukan untuk membantu proses pencernaan substrat bahan makan tertentu dalam saluran pencernaa, yaitu ENZIM. Mikroba-mikroba probiotika penghasil asam laktat dari spesies Lactobacillus, menghasilkan enzim selulase yang membantu proses pencernaan serat. Enzim ini mampu memecah komponen serat kasar yang merupakan komponen yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan unggas. Saat ini penggunaan bahan makanan ternak untuk unggas kebanyakan berasal dari limbah industry atau limbah pertanian yang pada umumnya mengandung serat kasar tinggi. Penggunaan probiotika yang menghasilkan enzim selulase, mampu membantu memanfaatkan makanan berserat kasar tinggi dari limbah industry dan limbah pertanian tersebut, dan mikroba probiotika membantu proses pencernaan ternak, khususnya unggas sehingga serat kasar dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan dan peningkatan bobot badan. 

Mikroba probiotika juga mampu men-sekresikan produk anti microbial yang disebut bacteriocin. Sebagai contoh Lactobacillus acidophyllus menghasilkan 2 (dua) zat atau komponen bakteriosin, yaitu bacteriocine lactacin B dan acidolin. Bacteriocin lactacin B dan acidolin bekerja menghambat perkembangbiakan bakteri pathogen (McNaught and MacFie, 2000).

3. Merangsang Mukosa Meningkatkan Sistem Kekebalan Hewan Inang

Mikro-organisme probiotika mampu mengatur beberapa aspek dari sistem kekebalan hewan inang. Kemampuan mikroba probiotika mengeluarkan toksin (racun) yang menghambat perkembangan mikroba-mikroba patogendalam saluran pencernaan, merupakan suatu kondisi yang dapat mengingkatkan kekebalan hewan inang. Toksin-toksin yang dihasilkan tersebut merupakan antibiotika bagi mikroba-mikroba pathogen sehingga penyakit yang ditimbulkan oleh mokroba pathogen tersebut akan berkurang dan dapat hilang atau sembuh dengan sendirinya. Hal ini akan memberikan keuntungan terhadap kesehatan hewan inang sehingga tahan terhadap serangan penyakit. Penggunaan probiotika pada unggas dilaporkan dapat menurunkan aktifitas urease, suatu enzim yang bekerja menghidrolisis urea menjadi ammonia sehingga pembentukan ammonia menjadi berkurang atau bahkan hilang. Amonia adalah suatu bahan yang dapat menyebabkan keracunan pada unggas (Yeo and Kim, 1997).

4. Membantu Proses Mencerna Makanan Dalam Saluran Pencernaan Secara Enzimatis :
4.1. Amilolitik, memecah amilum (karbohidrat) menjadi gula sederhana;
4.2. Proteolitik, memecah protein kasar menjadi asam amino; 
4.3. Lipolitik, memecah lemak menjadi asam lemak; 
4.4. Selulolitik, memecah serat kasar menjadi zat gula sederhana; 
4.5.  Lignolitik, memecah lignin menjadi zat gula sederhana;
4.6. Asidofilus, meng-asamkan saluran pencernaan sampai di usus besar supaya pH-nya sekitar 5,5 supaya mikroba pathogen terhambat pertumbuhannya.

MIKROBA PROBIOTIKA

Sejumlah spesies mikroba telah berhasil diisolasi dan telah diidentifikasi dan digunakan sebagai probiotika. Fuller (1999) melaporkan bahwa mikroba-mikroba yang termasuk ke dalam probiotika antara lain :  

Lactobacillus delbruecki sub-spesies bulgaricus

L. acidophilus
L. casei 

L. rhamnosus
L. plantarum 
L. fermentem 
L. brevi 
L. lactis
Streptococcus salivarius sub-spesies thermophilus
S. lactis
Enterococcus faecium
E. faecalis 
Bifidobacterium bifidum  
B. pseudolongum 
B. brevis 
B. thermophilus 
Bacillus subtilis
B. cereus  
B. toyo  
B. natto  
B. mesentricus 
B. licheniformis 
Clostridium butyricum  
Pediococcus pentosaceus  
Saccharomyces cerevisiae  
Aspergillus oryzae  
Aspergillus niger  
Candida utilis  
Candida pintolepsi, dan masih banyak lagi.
 
Beberapa mikroba probiotika telah diperjualbelikan secara komersial, baik dalam bentuk tunggal mau pun dalam bentuk campuran.

PEMBERIAN PROBIOTIKA DAN MANFAATNYA PADA TERNAK UNGGAS   
Di dalam saluran pencernaan hewan, ternak atau manusia terdapat sekitar 100 – 400 jenis mikroba yang secara sederhana dikelompokkan dalam mikroba baik (yang menguntungkan) dan mikroba jahat (yang merugikan, yang bisa menyebabkan penyakit atau mikroba pathogen). Semua mikroba hidup dalam keseimbangan. Jika keseimbangan terganggu, misalnya mikroba yang jahat lebih banyak dibandingkan dengan mikroba yang baik, maka cepat atau lambat akan timbul penyakit. Terjadinya diare misalnya adalah akibat bakteri Eschericia coli, kolera oleh bakteri Vibrio cholera. Atau tipus, oleh bakteri Salomonella thyposa, S. thypimurium. 
Pemberian probiotika seperti telah dikemukakan di bagian terdahulu adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba di dalam saluran pencernaan hewan dimana mikroba-mokroba yang menguntungkan populasinya lebih tinggi daripada populasi mikroba yang merugikan. Pada manusia perbandingan persentase jumlah mikroba yang baik yang dianjurkan adalah sekitar 85% : 15% (Anonymus, 2004). Perbandingaqn tersebut tentu saja dapat tercapai dengan pemberian atau penggunaan PROBIOTIKA dan PREBIOTIKA. 
Pemberian probiotika pada unggas bisa dalam bentuk campuran ransum atau melalui air minum. Bisa probiotika tunggal atau yang campuran. Beberapa keuntungan penggunaan probiotika pada hewan atau ternak khususnya unggas adalah : 
1) dapat memacu pertumbuhan, 
2) memperbaiki konversi pakan, 
3) menjaga kesehatan ternak antara lain dengan mencegah terjadinya gangguan pencernaa. Terutama hewan-hewan muda, pra-pencernaan faktor-faktor anti nutrisi seperti penghambat enzin trypsin, asam phitat, glucosinolat dan lain-lain. 
Pemberian probiotika pada broiler dilaporkan dapat memperbaiki pertumbuhan, angka koversi pakan serta meningkatkan ketersediaan vitamin dan zat makanan lain (Barrow, 1992; Yeo and Kim, 1997). Pemberian probiotika pada ayam broiler sebaiknya pada 3 (tiga) minggu pertama pemeliharaan (Yeo and Kim, 1997). Pada ayam petelur dilaporkan bahwa pemberian probiotika dapat memperbaiki produksi telur, konsumsi ransum, tetapi tidak terhadap bobot telur (Bahlevi et al., 2001). Sedangkan Panda et al (2003) melaporkan pemberian probiotika dapat memperbaiki produksi telur, berat kerabang dan tebal kerabang telur serta menurunkan kadar kolesterol di kuning telur. 
Di beberapa negara Eropa dan Amerika saat ini sedang dikampanyekan pembatasan penggunaan antibiotika pada hewan-hewan ternak. Hal ini dilakukan untu mencegah terjadinya resistensi dari penggunaan antibiotika dan menghindari pengaruh negative antibiotika pada manusia (konsumen). Selain itu pemberian antibiotika juga bisa mengganggu keseimbangan mikroba di dalam saluran pencernaan. Sebagai alternative yang aman dari penggantian penggunaan antibiotika adalah dengan pemberian probiotika. Karena tidak mempunyai pengaruh samping yang negative bila diberikan dalam dosis yang tepat (Petterson and Burkholder, 2003; Cavazzoni et al, 1998; Yeo and Kim, 1997). Penggunaan probiotika juga merupakan suatu cara pendekatan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi penyakit, terutama penyakit thypus terhadap produk-produk unggas, yaitu daging dan telur ayam. Sehingga daging dan telur ayam yang dihasilkan higienis dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Hal ini akibat ter-reduksinya mikroba-mikroba pathogen penyebab penyakit. 
Penggunaan probiotika saat ini tidak hanya berkembang untuk ransum-ransum hewan atau ternak, tetapi juga berkembang pesat pada makanan manusia. Sejumlah produk makanan manusia telah dilengkapi probiotika dan prebiotika seperti produk olahan susu untuk bayi. Susu formula untuk bayi dilengkapi probiotika atau prebiotika yang menguntungkan sehingga bayi lebih tahan terhadap penyakit dan lebih sehat. Produk olahan lain adalah susu fermentasi seperti yogurt dan Yakult. 
Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan dapat memberikan manfaat terutama peningkatan performance baik kuantitas mau pun kualitasnya sehingga usaha peternakan menjadi lebih produktif, ekonomis, higienis dan sehat (PEHAS). 
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2003. Mengenal Probiotik dan Prebiotik. Tabloid Ibu dan Anak : Ekuator Edisi 23 Mei 2003. Internet  

Anonymous, 2004. Probiotika dan Prebiotika Nan Sehat. 
Fuller, R. 1992. Probiotic for Farm Animal. In Gerald W. Tannock, 1992. Probiotics The Scientific Basic. Chapman & Hall, London. 
McNaugth, C.E., and J.MacFie 2000. Probiotic In Clinical Practice : a critical review of the evidence. Nutrition Research 21 (2001) 343-353. 
Petterson, J. A., and K.M. Burkholder, 2003. Application of Prebiotic and Probiotic in Poultry Production. Poultry Science 82: 627-631.Yeo, Jinmo and Kyu Il Kim, 1997. Effect of Feedening Diets Containning an Antibiotic, a probiotic, or yucca extract on growth and Intestinal urease activity in broiler Chick. Poult. Sci. 76: 381-385.

  _______________________________________________________________________

KLORINASI AIR MINUM

 EFEKTIF MENCEGAH TIMBULNYA

KOLIBASILOSIS

  Penyakit Kolibasilosis sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit “wajib” pada peternakan ayam. Peternak kerapkali bertanya, mengapa Kolibasilosis hampir pasti dialami selama periode pemeliharaan ayam dan kasusnya selalu berulang pada periode-periode selanjutnya. Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Kolibasilosis berhubungan langsung dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal, sehingga tak heran jika hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air di lokasi peternakan hampir semua menunjukkan positif mengandung bakteri E. coli.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumur dangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis selalu muncul. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tank. Infeksi kuman coli diperparah bila air dari sumur tersebut tidak disanitasi atau tidak disterilkan.

Gangguan yang bisa ditimbulkan oleh Kolibasilosis ini diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan produksi telur, juga merupakan pendukung timbulnya penyakit lain di saluran pernapasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi serta tingginya biaya pengobatan. Kolibasilosis juga dapat menular melalui telur tetas yang tercemar. Anak ayam yang menetas dari telur yang tercemar tersebut akan mempunyai banyak bakteri E. coli yang bersifat merugikan (patogen) di dalam usus dan feses. Feses mengandung bakteri E. coli yang dikeluarkan dari tubuh menjadi sumber penular utama. Namun, sering-sering peternak menganggap remeh keberadaan penyakit ini karena biasanya Kolibasilosis tidak menimbulkan kematian dan penurunan produksi telur yang tinggi. Disamping juga Kolibasilosis dianggap remeh karena mudah ditangani dengan tindakan pencegahan dan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Padahal, selain besarnya biaya pengobatan, E. coli bisa menjadi resisten terhadap antibiotik. Kolibasilosis berdampak pula pada pertumbuhan ayam yang tidak optimal dan produksi telur tidak stabil. Kolibasilosis dapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, Kolibasilosis menyebabkan kematian dengan gejala Omphalitis (infeksi di pusar). Sedangkan pada ayam petelur, Kolibasilosis menyebabkan produksi telur turun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan mudah terinfeksi penyakit lain. Ayam yang pernah terinfeksi E. coli dapat menjadi pembawa (carrier) sehingga penyakit ini mudah kambuh pada kemudian hari. Sementara, pada broiler Kolibasilosis menyebabkan kematian yang terjadi selama periode pemeliharaan dan perolehan berat badan saat panen yang rendah. 

Bakteri E. coli banyak terdapat di usus bagian belakang dan dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar bersama dengan feses. Di dalam feses, bakteri ini dapat bertahan sampai beberapa minggu, tetapi tidak tahan terhadap kondisi asam, kering dan desinfektan. Bakteri E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, dapat bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri E. coli bisa masuk melalui saluran pernapasan saat udara sangat berdebu atau ayam sebelumnya telah menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup tersebut akan melakukan infeksi dan berkembang biak (multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantung udara yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh. Sedangkan untuk saluran pencernaan biasanya E. coli menyerang usus yang telah mengalami luka karena cacing, jamur atau Koksidiosis. Kerusakan dapat dilihat berupa peradangan, penebalan dinding usus, edema dan keluar lendir bercampur darah. Ayam mengalami diare dan secara fisiknya ayam akan mengalami diare dan menurunnya kondisi tubuh secara cepat. Kuman E. coli juga bisa masuk ke saluran reproduksi karena pencemaran dari feses. Di saluran reproduksi kuman E. coli menular melalui telur tetas dan menyebabkan kematian embrio atau telur pecah di saluran reproduksi sehingga ayam mati mendadak. Faktor yang menjadi penunjang timbulnya Kolibasilosis adalah “litter” kering dan berdebu, “litter” basah/lembab (kadar air >30%, bila digenggam menggumpal), kadar amonia tinggi, ventilasi kandang jelek, populasi terlalu padat, stres akibat pertumbuhan yang terlalu cepat, adanya penyakit menular, dan reaksi vaksinasi yang berkepanjangan. Peternak patut curiga ayamnya terserang Kolibasilosis bila menunjukkan :

> gejala kurus,

 > bulu kusam,

      > nafsu makan turun, 

  Ø   > pertumbuhan terganggu, 

  Ø   > produksi telur turun, 

     > diare berwarna hijau dan berbau khas, serta bulu kotor dan lengket di sekitar dubur.

Namun untuk lebih meneguhkan diagnose, perlu dilakukan pengamatan dengan cermat terhadap gejala klinis dan perubahan bedah bangkai. Segera hubungi dokter hewan kenalan Anda atau minta saran dari Technical Services langganan Anda. Hal ini karena Kolibasilosis mempunyai gejala klinis hampir sama dengan penyakit Salmonelosis, Kolera unggas dan Streptococcosis.

Pada umumnya, ayam yang pernah terinfeksi Kolibasilosis sulit untuk sembuh sempurna. Kondisi stres dan daya tahan tubuh yang turun biasanya menjadi faktor pemicu munculnya kembali penyakit Kolibasilosis. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah Kolibasilosis merupakan penyakit ikutan, artinya mengikuti penyakit lain seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), Swollen Head Syndrome (SHS) dan Koksidiosis. Selain itu, proses terjadinya penyakit juga cenderung lambat.

Gejala klinis Kolibasilosis baru dapat terlihat jelas jika penyakit sudah berlangsung lama dan bersifat kronis. Tempat predileksi (kesukaan) bakteri E. coli yang terletak di kantung udara, dimana pembuluh darah di daerah kantung udara sedikit sekali menyebabkan pengobatan secara sistemik (melalui sirkulasi darah) kurang efektif karena antibiotik yang mencapai kantung udara sangat sedikit sehingga obat tidak dapat terdistribusi optimal ke organ sasaran. Bakteri E. coli adalah baketri oportunis yang bisa menimbulkan penyakit jika kondisi lingkungannya sesuai. Oleh karenanya penting di sini untuk mempertahankan lingkungan kandang tetap bersih dan lakukan upaya pencegahan secara rutin dan terjadwal.

Manifestasi bakteri E. coli bisa berbagai bentuk, misalnya pericarditis, perihepatitis dan peritonitis. Yaitu ditandai permukaan jantung, hati dan peritonium tertutup selaput fibrin berwarna kelabu. Bentuk "egg peritonitis" akibat sumbatan massa mengkeju dan luruhnya oviduk (saluran telur). Ditemukan juga coli-granuloma, yaitu tumor seperti bunga kol yang keras dan berwarna kuning.
Bakteri E. coli mudah mencemari lingkungan kandang. Bakteri ini banyak terdapat dimana-mana yaitu air, debu, dan tanah. Bila memasuki musim penghujan, air hujan yang mengalir bersama tanah dan feses yang mengandung bakteri E. coli akan mencemari air sumur atau air tanah. E. coli tahan lama di lingkungan, setelah keluar dari inang (tubuh ayam), bakteri ini dapat bertahan tanpa "nutrisi" selama 20-30 hari, sehingga dapat menginfeksi ayam dan Kolibasilosis kambuh lagi. Semua hewan dapat terserang Kolibasilosis karena bakteri E. coli tidak khusus menyerang satu jenis hewan saja. Ia juga mudah mengalami mutasi menjadi Entero Pathogenic E. coli (EPEC), yaitu menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu, juga bermutasi menjadi Entero Toxigenic E. coli (ETEC), yaitu bakteri yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Upaya pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya adalah :

1. Sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatannya.

Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicuci 2 (dua) kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.

2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang.

Orang dan atau kendaraan lain, hewan liar dan atau hewan peliharaan lain, lebih-lebih yang sebangsa, bisa membawa dan menularkan penyakit. 

3. Mencegah stres.

Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam.

4. Sanitasi air minum.

Sanitasi sumber air minum untuk ayam dan ternak dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam dan ternak. Program sanitasi air minum harus dilakukan secara kontinyu kecuali saat jadwal vaksinasi vaksin aktif, ditiadakan sementara. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorin - klorinasi air minum - dengan cara memasukkan 3 - 5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi air minum, pakan dan produksi telur karena mengubah rasa dan bau. Di peternakan, klorinasi air minum dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika menggunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6 - 10 gram kaporit tiap 1.000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosis pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12 - 20 gram tiap 1.000 liter air. Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air minum yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam. Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium. Tetapi saat ini sudah tersedia bahan kimia untuk klorinasi air minum yang lebih efektif dan lebih hemat, yaitu MEGAKLORIT (http://www.obat-pembasmi-lalat.com/?Produk_Lain). Karena kadar klorinnya lebih tinggi 30% daripada Kaporit, larut sempurna (tanpa endapan) dan klorinnya lebih tahan terhadap sinar ultra violet dari matahari karena mengandung Asam Isocyanurat sebagai stabilisator. Dosis pemakaiannya pun jauh lebih sedikit, hanya 1 : 7,5 daripada Kaporit. Setelah MEGAKLORIT dilarutkan dan diaduk rata, cukup dibiarkan selama 20 menit atau bau kloritnya sudah hampir hilang, lalu diminumkan. 

Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:

- tidak berwarna;

- tidak berbau;

- jernih;    

- tidak ada endapan;

- pH 6.5 – 7.5 (netral);

- kesadahan < 20 mg/liter; 

- garam (NaCI) < 1.000 ppm;

- total bahan terlarut < 3.000 mg/liter;

- nitrat dan nitrit < 5 ppm;

- logam beracun < 0,5 ppm total;

- jumlah bakteri < 3.000/ml;

- total jumlah Koliform < 300/ml; 

- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada).

5. Tata laksana “litter”.

Cegah "litter" menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang “litter” terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi dibuang dan diganti yang baru.

6. Bila kena Kolibasilosisi segera diobati

Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul. Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya menggunakan antibiotik dari golongan yang berbeda. Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan tata laksana pemeliharaan yang baik.

______________________________________________________________________

Update terakhir: July 13. 2014 08:09:01
 

 
 
 
 
 
obat pembasmi lalat
Pilihan Bahasa
KUNJUNGAN KE WEB INI